Pages

Rabu, 14 Mei 2014

Menggenapi Musim




Kau tahu, Sa, apa yang kurenungi ketika duduk menatap senja di dermaga muara Malaka tempo hari? Diam-diam takzim kepada Sang Dharma, telah menghadirkanmu sebagai bagian dari penghuni semesta. Telah menemanimu bertumbuh dan merengkuhmu dalam kasih di setiap perjalananmu. Telah menghantarmu dengan selamat ke sini, ke sisiku lagi.

Aku berterima kasih kepada Tuhan atas hari ini, hari kelahiranmu. Tanpa hari ini, berpuluh tahun lalu, tak akan ada senyum lepasku setiap bercanda-gurau denganmu. Tak akan ada legaku setelah kau temani menyelesaikan masa laluku. Tak ada ujung-ujung jemari yang selalu ingin mengetuk papan hitam karena ingin pamer karya terbaru kepadamu. Tak ada dua pasang sandal yang atusias menelusuri jalanan tua. Tak ada kita.

Aku berterima kasih kepada Tuhan atas hari ini, hari ketika Ia mentahbiskanmu kelak menjadi perempuan yang selalu berusaha keras menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang dekatnya. Meski peluh tak henti menitik di keningmu, meski kaku menyapa punggungmu, meski kesal tak jarang menghiasi rautmu.


Aku berterima kasih kepada Tuhan atas hari ini. Meski kau selalu membuatku kesal karena tak henti menerbitkan rindu, padahal kau sedang duduk membaca di sampingku. Meski kau selalu membuatku ingin bertanya kabar, padahal belum lima menit kau berjalan keluar pintu. 

Aku berterima kasih kepada Tuhan atas hari ini, hari ketika bulan penuh dihadiahkan-Nya untukmu, sebagai pertanda awal dari lembar-lembar baru masa depan yang semoga seterang dan sepenuh berkat purnama Sidhi.

Meskipun purnama tak bisa kutatap denganmu di sisiku, rama-rama pembawa doa dariku sudah terbang dan mengitarimu sejak sore tadi. Selamat hari lahir, Sa. Semoga kebaikan datang dari segala arah.

Minggu, 23 Maret 2014

Ara dan Sebuah Nama

Sebut aku penganut paham reinkarnasi, jika memercayai hidup adalah rantai panjang yang tak terputus, bahwa jiwa manusia adalah entitas kekal yang terus hidup bersama perputaran zaman. Sebut aku penganut paham metafisik, jika percaya bahwa setiap pilihan bawah sadar manusia adalah memori dari sejarah-sejarah masa lampaunya dalam rantai terdahulu.

Entah kapan tepatnya, aku cuma ingat pada suatu masa ketika masih berstatus mahasiswa, pada suatu malam, ketika jenuh dengan layar berisi teori strukturalisme untuk bahan skripsi, sebuah nama melintas dalam benak. Ara. Layar baru pun terbuka, satu cerpen dengan nama Ara sebagai tokoh utamanya mengalir dari ujung-ujung jari. Sejak itu, entah sudah berapa kali nama Ara menjadi tokoh dalam cerpen-cerpenku.

Ara semakin mewujud, hidup dalam tulisan dan kepala. Dia seperti ada entah di mana. 

Sementara itu, ternyata engkau pun hidup dengan nama itu. Menghari-hari bersamamu.

Sampai pada suatu masa ketika kita berjumpa. Saat tak ada Aramu dan sesiapa lainnya. Dan, kau pun memanggilku... Ra, Aramu. Nama yang selalu kau suka selama ini. Pada saat yang sama, aku merasa, kaulah Ara yang mengalir dalam bawah sadarku bertahun-tahun sebelumnya.

Aneh adalah cara semesta menautkan kita lagi. Tak pernah dalam konspirasi pribadi, hanya mengalir saja tanpa ada yang pernah berusaha menarik. Kita hanya mengikuti apa yang semestinya terjadi. 

Ara... seperti mantra syahdu bagi kita berdua. Masing-masing menyimpan cerita lama, tetapi pada akhirnya mengalir menjadi cerita baru yang sudah dibentangkan semesta kanvas dasarnya.

Welcome home, Ara....

Kamis, 13 Maret 2014

Mencintai seperti Samudra

Semalam, kita seperti muara, pada titik pertemuan antara hijau cokelat air sungai dan biru bersepuh busa putih air laut. Kita menderas sembari terus mendaras kenyataan perasaan yang tak pernah pudar.

Tak bisa memberimu apa-apa selain hati yang diniatkan terus melapang seluas samudra. Karena mencintai tak pernah tentang duduk geming di bangku taman. Mencintai selamanya tentang bersisian meniti hari-hari yang kadang panas terik tak jarang dingin gigil.

Pada akhir hari, mari berdoa agar Sang Digdaya melimpahi kita dengan tenteram dan jalan terang. 

Sabtu, 08 Maret 2014

Day 9: Pair of Wings

Dear Sa,
If I have a pair of wings, I'll fly you away by my self, right to Aramis House, right to my hug. Never easy, couldnt reach you hours, days. Just wishes and prays. The way I communicate, right to your heart, where our loves live and beating.


rindu,
AR

Jumat, 07 Maret 2014

Day 8: You, My Reason

Dear Sa,
Ada kalanya, alasan absen menemani hari-hariku terdahulu. Alasan untuk bertumbuh, alasan untuk berlari mengejar kereta angin mimpi, alasan untuk bertahan dan tersenyum.

Kurasa, setiap manusia pernah mengalami momen itu. Momen menikmati hidup tanpa banyak berpikir ke belakang, juga ke depan.

Kurasa, itu karena masih ada ruang dalam hati yang enggan dibuka. Hanya ingin dinikmati tanpa teman. Aku tak lagi mau serupa itu.

Menata kata-kata di layar komputer malam ini, membuatku teringat alasan lain aku melakukannya. Bukan sekadar karena cintaku pada dunia ini, pada Tuhanku yang meletupkan sihir ke dalam jemariku, melainkan juga karena inginku membubuhkan namamu di dalam karya terbaruku. Dan, mengingat itu membuatku menulis dengan tersenyum. 

Aku ingin, menjadi pemetik ide yang bergantungan di sela-sela rambut ikalmu yang keperakan, di antara gurat-gurat mata cokelatmu yang lelah, di sisa-sisa kecupmu di pipi kananku, di rajahmu yang kerap kuusap lembut. Di dalam semua tentangmu.

Izinkan aku.


bilakah dekapmu kembali menggulung tubuh mungilku?
Ar


Kamis, 06 Maret 2014

Day 7: Klepto Thing

Dear Sa,

Hows life there? Bermimpikah juga tentangku malam tadi? Hingga kau terbangun pada awal hari. Aku masih mengikuti waktumu, tak bisa lelap berhari-hari, cuma sekitar 2-3 jam saja. Rindumu sudah memadati kedua saku? Aku juga.

Hari-hari belakangan ini aneh, penuh masalah ganjil. Dan hari ini aku berhadapan dengan kleptomania di kantor. Oh lala. Masalah macam apa ini. Aku terlelap cukup lama di meja kantor tadi, pelupuk memberat minta perhatian ekstra. Pekerjaan semakin memadat, ditambah rindu yang menyesak. Pulang nanti, kita beli kue yah. Aku mau red velvet atau blackforest. XOXO.

Come home soon.

merindumu,
AR

Rabu, 05 Maret 2014

Day 6: Angry Girl is in the House

Dear Sa,
Hangatkah hatimu setiap kali mengingatku di sana? Your brown eyes, you've said. Aku masih tak jenak lelap, baru bisa tertidur jika waktumu di sana sudah menunjukkan jam tidur. Membuatku merindu dekap hangatmu.

Pagi kumulai dengan baik, sebenarnya, dengan satu halaman prolog project baruku, dengan jendela ruang kerja yang terbuka, udara pagi yang sejuk, teh kerinci hangat, Blur, dan gairah menulis. Pagi yang sempurna dikoyak oleh email dari HRD kantor lama, tentang pemotongan hakku yang membuatku langsung menelepon mereka. Sangat tak adil. Sudahlah, mengingatnya hanya akan meletupkan angkara lagi. Siangnya, tangan kananku merah selepas menggebrak meja layanan servis handphone. Belum pernah aku semarah itu hingga mengintimidasi secara fisik ke orang lain.

Sorenya, ada lagi yang berulah, kali ini di ruangan.

Membaca ulang wasapmu hari ini, lumayan menenangkanku. Sisanya kucari dalam tumpukan buku dan pekerjaan. Rasanya ingin cepat pulang, bergelung bersama Aramis dalam selimut. Hari yang melelahkan....


merindumu, sangat,
AR

Senin, 03 Maret 2014

Day 5: A Miss or Two

Dear Sa,
Memulai kesibukan pagi ini di meja kerja ditemani Pair of Wings-nya Justin Timberlake. Membuatku malah semakin merindumu.

Merasai hari-harimu membuatku naik ranjang dengan cepat semalam, tubuhku melayu layaknya habis berjalan dan bepergian. Berbaring sambil membaca buku dan menanti kabarmu adalah hal yang kulakukan hingga lelap, meskipun terasa sangatlah sulit. Semoga dengan begitu letihmu tak terlalu kau rasa. Kedua mata seperti tak lagi tahu harus mengikuti waktu siapa, waktuku di sini atau waktumu di sana.

Terbangun dengan mata berat dan tubuh yang setengah masih berada di sisimu.

Terima kasih, sudah memanjatkan doa untukku, menyisipkan doa kita. Ingin rasanya ada di dekatmu, berdoa bersama seperti yang sering kita lakukan. Mengusap air mata di kedua pipimu, dan mengecunya seperti yang selalu kau lakukan setiap kali aku berada dalam situasi yang sama. Menangislah sepuasnya di sana, legakan dirimu dari segala tabir yang selalu kau jaga jika berada di luar rumah Aramis. 

Hari ini terik melanda sejak pagi, rasanya sanggup meminum bergalon sirup dingin, masih dinginkah angin di sekitarmu? Naikkan kerah rapat-rapat, agar hangat selalu menemanimu.

Keep healthy, rapalkan doamu selalu, doa kita.


mencintaimu,
AR

Minggu, 02 Maret 2014

Day 4: Hows Life There?

Dear Sa,

Beyt Elohim ramah padamu? Pasti menyenangkan berkeliaran di jalanan yang penuh sejarah dan cerita, kau membuatku iri, Sa. Doa-doa kita semoga bertiup langsung ke langit Sang Dharma. 

Hari ini my baby F launching, deg-degan sekaligus exciting dengan brand baru. Thanks alot, sudah jadi partner berbagi ide juga. Berharap tahun ini kita bersenang-senang sampai sukses dengan profesi kita masing-masing. Degup jantungku masih bersecepat, seiring dengan masuknya komentar dan dukungan dari teman-teman. Yeah, im just your lil R yang di depanmu tampil apa adanya, the clumsy one, you've said. Wish that i could hear your voice or cuddling inside your hug this early morning. Oh, how i miss you so.

Stay healthy there, so you can take care of others goodly. Can I just dropping my rain a bit? Just a drop or two. Drops of miss and love.

bunches kissess,
AR

Day 3: Silenco

Dear Sa,
Merasai perubahan-perubahan waktu setempatmu, membuatku sedikit teraduk-aduk. Tak apa, paling tidak jadi ada bagian diriku yang mengiringimu. Bisa membaca lagi deretan kabar yang kau kirim, membuatku bernapas lega. Selamat datang di kota pujaan Tuhan. Sampaikan kecup rinduku pada udara di sekitar Al Quds dan Dome of the Rock. Suatu saat aku akan datang ke sana menggenapi perjalanan kehidupan.

Hari ini aku bergelung di tempat tidur dan sofa merah saja, disandera fisik yang berstigmata kepadamu. Sembari menikmati rindu dalam diam bersama Aramis, Arashi, dan Patch the Angel. Memeluk buku dalam hening membuatku teringat kebiasaan kita, duduk khusyuk membaca buku masing-masing di teras belakang. Tenggelam dalam bacaan kita sembari membiarkan kaki-kaki kita bercengkerama sendiri di bawah meja. Membuatku teringat kecupan pertama darimu yang membuatku seolah tak lagi berada di dalam mobilmu, terlempar ke Antartika. Membeku. Kecupan yang membuat kita berjengit sadar tersedak dejavu.

Aneh adalah cara rindu membuat segala kenangan berlompatan dalam kepala seperti tak ingin ketinggalam menjadi latar pelipur. Kenangan yang membuatku semakin didekap rindu. Selalu berdoa untuk kesehatan dan kelancaran perjalananmu.

Home to me, jika rongga dadamu sudah penuh dengan berkat dan terang cahaya.

merindumu,
AR

Jumat, 28 Februari 2014

Day 2: Savasana and Your Sleepy Eye

Dear Sa,
Awal pagiku diricuhi kantuk yang semalaman membangkang pergi. Tubuhku seperti otomatis mengikuti waktu setempatmu yang berjarak lima putaran waktu. Takdir stigmata. Setelah berhitung antara kembali mencoba merayu lelap dan menyandang matras ke studio yoga, selepas Subuh akhirnya kuniatkan diri untuk bersiap ke studio. Lebih dari tiga bulan rasanya tidak memanjakan tubuh dan jiwa dengan kelas yoga pagi.

Yeah, seperti yang kau tahu, aku memang "idola" di kelas Sabtu pagi. Diidolai para ibu dan tante yang masih saja menganggapku "yang termuda" seperti saat bergabung dengan kelas itu ketika usiaku 26, padahal member baru lainnya banyak yang masih kuliah atau sekolah. Ckckck. Dan, yeah, seperti biasa, sang guru memintaku menjadi asistennya, padahal tubuhku sudah tiga bulan tak melakukan rutin yoga. Iya sajalah.

Setelah semua rutin kami jalani, savasana menjadi menu penutup seperti biasa. Kubaringkan tubuh, dengan kedua mata yang terpejam dan handuk biru Mickey Mouse di atasnya, kedua tangan di samping badan dengan kedua telapak terbuka. Alunan kidung yoga dari Hindustan mengaluni napas hidung. Kofokuskan pikiran kepada asupan udara yang mengalir bersama darah ke setiap bagian tubuhku, ke ujung-ujung jemari, hingga terembus keluar bak bunga-bunga yang mekar semai. Salah satu teknik meditasi favoritku.

Dalam aliran udara yang mengisi tubuhku, aku merinduimu. Mengalir ke segala penjuru, bersama alam bawah sadar yang mulai mengepakkan sayap, menujumu. Mata lelapmu pun terlihat, lebih dari cukup untuk sedikit mengobati rindu. Mata lelap yang dikelilingi lingkaran letih. Membuatku setengah tersenyum setengah ingin menderas. Kukecup diam-diam pipi, kening, dan bibirmu dari kejauhan sini.

Saat pulang nanti, akan kuseduh teh hijau Vietnam hangat untuk teman bercakap kita, seperti hari-hari biasa. Semoga Jabal Sina memberkatimu dengan jejak arif dan arib hari ini. Lekas pulang, jika kantung-kantung cahaya selesai kau penuhi.

kisskiss,
AR

Day 1: Jaket Cokelat dan Sisa Parfum

Dear Sa,

Mengepak perbekalan dan bertualang mungkin memang sudah mengalir dalam darah kita. Seperti zaman-zaman yang kita lalui dahulu, saat terpisah dan akhirnya bertemu pandang kembali. Ah, tapi, tetap saja, entah kamu atau aku yang melancong, tak bisa menghindarkan sensasi hati yang mencelus dan ruang hampa yang tiba-tiba tercipta ketika satu di antara kita mengudara. Sesering apa pun kamu mengemas koper dan melancong tanpaku, tetap tak bisa membuatku sekuat istri-istri pejuang gerilya yang ditinggalkan suaminya menggempur batalion musuh berbulan-bulan lamanya.

Terbangun dengan jaket cokelatmu yang rapat kusut dalam pelukanku, membuatku tersedak rindu akan dekap hangatmu yang biasanya kutemukan saat membuka mata pagi hari. Hal yang membuatku tersenyum, engkau sedang menuju dekap hangat Sang Maha di tanah-Nya.

Ah, baru hari pertama, rasanya sudah ingin berdoa meminta waktu dilipat mendekat kepadaku dengan cepat. Setiap penjuru rumah mengingatkanku kepadamu. Mungkin sebaiknya aku tenggelam dalam project kerja terbaru, agar degup rinduku tak juga ditingkahi isi kepala yang mencari-cari kecup pagimu.

Aku izin, ya, merajai galau dua minggu ke depan. Yeah, I'm just an ordinary woman, yang sudi dicap segalau abg kebanyakan kalau itu berarti sedang terpapar kangen. Tak ada femme yang tak galau, begitu kata pepatah. Sama halnya tidak ada kepergian yang tak membuat galau. Galau yang semoga berwujud akhir draft terbaruku yang akan kusodorkan kepadamu saat pulang nanti. Paling tidak, aku berusaha, Sa, agar galau ini sedikit naik kelas dengan berujung karya. Itu juga kalau isi kepala masih bertahan dan tidak kuyup dibasahi air mata. Itu juga kalau... Itu juga kalau... Duh, level galaunya sudah melejit satu strip. Aku kembali ke daftar review dan copy rights dulu, ya. Come home, soon, Silver.


kisskiss,
AR


Jumat, 13 Desember 2013

Happy December, Finally



Masih penasaran menanti kado-kado kecil dariku, Silver? Tukarkan rasa penasaranmu dengan semangkuk sabar di kedai depan rumah, ya :) Akan tiba masa ketika binar matamu menerangi kamar cokelat yang sekarang disemaraki selimut merah jambu. Binar ala kanak-kanak yang menunggu Natal dengan sedikit-sedikit melongok dari celah pintu.

Tak perlu ditunggu, kadoku sederhana saja, hanya sekeping doa, agar Sang Dharma memindahkan sehamparan samudra sabar dalam kedua dada kita, hingga bisa menjalani hari-hari bersama dengan tekun dan bahagia.

Kemari, seduhan teh Desember sudah mengepul di teras belakang.

Selasa, 03 Desember 2013

Blessed



Berkat adalah ketika terang jalan tetap terlihat jelas pada setiap sapa kabut dan kelam temaram. Cinta adalah ketika pemahaman menguar dari setiap pilihan langkah dan pikir. Cinta adalah ketika rentangan dekap selalu tersedia untuk kekasih hati pada setiap kesempatan.

Kamis, 28 November 2013

Simple


Berlaku sederhana bagi kebanyakan manusia modern, rasanya sama sulitnya dengan mencari seporsi nasi jagung berlauk ikan asin goreng dan urap daun turi di supermarket berlabel komoditas impor. 

Sebegitunyakah?

Sederhana berubah menjadi kata ajaib yang dianggap cuma ada dalam KBBI. Segala sesuatu harus super rumit dan sophisticated, sebanding dengan gadget yang disesaki dengan segala aplikasi yang entah dimengerti entah tidak. Telepon genggam yang cuma monochrom bisa telepon bisa berkirim pesan, dianggap terlalu sederhana. Terlalu sederhana berarti kurang canggih menyejajari pola kehidupan mereka yang multitasking. Semakin multitasking seseorang, dianggap semakin modern. Apa-apa yang tampak sederhana, dirasa patut dicurigai. 

Ah, ah....

Ironisnya, dalam melirik lingkungannya pun, manusia modern ini bersikap sama. Kesederhanaan alasan tak bisa diterima, melulu dicari-cari celahnya, dianggap bagian dari rekayasa, konspirasi, aksi balas dendam, bahkan evolusi. Aih! 

Hati-hati, semakin tak bisa sederhana melihat semesta, semakin tak sederhana pula cara kita menghirup napas segar yang berlimpah ini :) 

Senin, 18 November 2013

See You When I See You



Meski sudah mulai terbiasa, mengecup tanganmu setiap turun dari Marcell yang mengantarku merangkai mimpiku pada pagi hari, sekaligus melepasmu terbang memahat mimpimu, tetap saja terasa.... sepa.

Seperti teh tanpa gula yang diseduh dari air dispenser. Terasa kurang.

Saat membuka pintu rumah, dan mendapati di dalamnya hanya ada aku dan reid dan beruang-beruang penghuni sofa merah itu, rasanya seperti ingin berdiam diri sampai pagi datang lagi.

Lekas pulang, jika pahatan mimpimu sudah tuntas. Akhir pekan, akan kita nikmati seperti biasa. Dengan sepoci teh, tumpukan komik, senandung Payung Teduh, hangatnya selimut merah, dan rindu yang berdeburan.

Merindumu.

Kamis, 14 November 2013

My Cha



Kamu tahu, mengapa aku tertegun menatap kepingan tutup cangkir teh kesayanganku yang tanpa sengaja kujatuhkan?

Ya, memang, salah satunya karena cangkir itu kubeli di sebuah museum teh yang kukagumi di seberang Laut Cina Selatan. Museum kecil berlantai dua yang nyaman di bawah rimbunan pohon di tengah taman kota negeri itu. Cangkir teh yang kupilih hati-hati hingga menghabiskan waktu nyaris satu jam untuk hanya berdiri terpaku di depan deretan cangkir teh buatan tangan. Aku suka lukisan bunga ungu berpadu merah muda di bagian depannya, dengan warna dasar putih yang mendominasi.

Cangkir teh kesayanganku, yang baru kupakai ketika pindah ke rumah kita. Semacam perayaan kecil.

Tapi, bukan karena susahnya cangkir itu kuperoleh yang membuatku sedih dan memandangi pecahannya yang kau kumpulkan untuk dibuang. Namun, karena aku tak bisa lagi menyeduh teh untukmu dengan cangkir kesayangan. Tak hanya seseduh teh yang ingin kusajikan untukmu, tetapi juga seteguk sejarah perjalananku.

"Tak apa, nanti kita pergi ke sana berdua, ya, beli cangkir yang baru. Kan masih ada cangkir lainnya," ujarmu sambil mendekapku yang kehilangan ekspresi di dapur beranda belakang. 

Kamu tahu betapa aku menikmati aktivitas minum teh, mengumpulkan aneka jenis teh dari mana saja, dan juga menjerang air untuk menyeduh secangkir buatmu. Teh hijau bermadu saat pagi hari sebelum kamu berangkat ke kantor. Teh buah blackcurrat bergula saat sore hari menikmati senja. Teh hitam bercengkeh untuk malammu yang letih. Teh merah bersereh untuk hari-harimu yang bertumpuk jadwal.

Kamu tahu, mengapa aku terkadang memanggilmu "My Cha"? Di Cina, mereka biasa menyebut teh dengan kata "cha", di Jepang dengan "ocha", di India dan Thailand dengan kata "chai". Kamu dan secangkir cha punya satu kesamaan: menghangatkanku. My lovely Cha.

Selasa, 05 November 2013

Letter From Outer Islands


Dear You,

Tahukah engkau, sebelum keputusan untuk ikut bergabung dalam tim ekspedisi pulau-pulau terluar Nusantara itu kuambil, hal apa yang memberati kata "ya" untuk keluar dari bibirku? Adalah kamu dan candu sentuhan ujung jemari kita. Berhari-hari mengarung laut dan samudra, tanpa beroleh detik untuk bertukar tatapan denganmu, mampukah aku?

Ya, biasanya aku tak berat untuk mengambil peluang agar ranselku kembali tersandang, agar dahaga menjejak tanah baru terpuaskan, agar pundi-pundi pengetahuan baru kembali sesak terisi.

Ya, biasanya aku tak berpikir panjang untuk mengambil kesempatan agar bisa bercengkerama dengan pemilik negeri asing, agar bisa khusyuk mendengarkan cerita tentang legenda keberadaan mereka, agar bisa menerbitkan liur menyantap hidangan lezat dari dapur mereka.

Ya, biasanya aku tak berat hati untuk berjibaku mengejar pesawat, kereta, taksi, kapal, perahu, ojek, kano, cidomo, andong, dan apa pun segala moda transportasi lain agar senyum lega mekar karena akhirnya berhasil mencapai titik tujuan.

Ya, biasanya aku tak irit waktu untuk mengejar peluang menangkap pemandangan penuh pesona ke dalam kotak penyimpan gambar elektronik yang kita sebut kamera.

Ya, biasanya perjalanan adalah salah satu petualangan dalam hidupku. Perjalanan adalah caraku mencari jawab segala tanda tanya yang berjubelan dalam bilik kepala. Perjalanan adalah caraku memahami seperti apa rasanya merindukan rumah. Perjalanan adalah caraku mengatup telapak kesyukuran kepada Sang Dharma. Perjalanan adalah caraku menjadi manusia.

Biasanya. Kini tak lagi.

Dear You,

Terasakah olehmu, ketika duduk teralun ombak Laut Cina Selatan, melempar pandangan ke hamparan laut yang biru tua beratap gemendung langit Kepulauan Anambas, berteman cericip camar laut yang tak jenak menangkapi bilis-bilis mungil, sembari paru disegari udara segar dingin beraroma asin, jemariku tak henti mengetuki papan kayu kasar bergurat masa. Mengingatimu. Menyebut namamu dalam diam muka pucat.

Aku merindu.

Rindu riuh tawa kita membicarakan apa saja. Rindu perdebatan kecil kita dalam diskusi tentang kehidupan. Rindu canda jailmu yang tak pernah bosan menggodaku hingga terbit mentari di kedua bela pipiku. Rindu senandung slow rock 80-an yang kau gemari itu. Rindu mata terakotamu yang menatap mata cokelatku dengan penuh kasih. Rindu kecup kecilmu sebelum aku berangkat pergi.

Kerinduan yang kucari tajuknya hingga berpindah destinasi menyusuri Samudra Hindia.

Kala tubuh menggigil dingin dalam balutan mantel hujan hijau tua, diterpa hujan deras yang menemani perjalanan menuju Mentawai, aku mengingatimu. Kala pandangan beradu dengan atap langit malam di atas kepala, yang terus bercucuran deru air langit, aku terkenang akan kita. Kala senyum terbit menyapa mentari pagi yang tak pelit sinar hangat di ujung dermaga Tua Pejat, aku mulai meyakini suatu hal.

Di tepian batas Nusantara, ketika 12 mil lagi adalah laut bebas yang bukan milik tanah air lagi, sebelah tanganku mendekap bagian tubuh yang di kedalamannya tersimpan sebentuk hati berdenyutan. Menyadari bahwa hanya tinggal separuh hati saja yang tersisa di sana.

Separuhnya lagi telah bertukar tempat, dengan milikmu. 

Dear You,

Pada akhir perjalanan, ketika tubuh kembali terguncang dalam sebarang moda transportasi menuju ibu kota, hati menghangat nyaris membara. Antusiasme membumbung lebih dari biasa. Lebih dari keasyikan berkemas barang atau berpindah lokasi.

Pulang menjadi lebih syahdu dari biasanya. Dahulu aku pulang kepada kepergian yang lain. Kini aku pulang kepada satu pemahaman. 

Engkau yang kumau sebagai tempatku mendermaga. Melabuh mimpi dan masa depan. Bersauh rindu dan mungkin juga... cinta....

Would you be, my travelmate? In life, in love, in long journey....

Gazal: Jalad Kata



Hujan di penghujung temaram, deru deras mendadah lidah kelu kata
Lisan bergeming mengunci maksud yang berdesakan menyeruak kata
Napas mematah, sulur pikir bermusafir, harap sua penafsir kata
Duli puan bijak bestari, milikmukah secawan pengisap kata?
Hingga degupku hanya dentang, rinduku gemersak lontar, asing kata
Entah mantra Toraja atau sulur rasa, membuatku tersekat kata
Jemari membukai lembar papirus beraksara farsi, bimbang kata
Kesadaran tiba, yang terbaca jiwa, terindu raga, tak butuh kata


Ehem,

Ini hasil "tantangan" dari pemilik blog http://mairaby.blogspot.com/ Kata Maira, gazal berasal dari Persi-Arab. Gazal merupakan puisi lama yang terdiri atas delapan larik. Tiap larik terdiri atas 20-22 suku kata. Setiap larik mempunyai kata akhir yang sama. Gazal berisi masalah kebatinan yang tinggi. Kata saya, gazal berisi masalah kerinduan saya yang juga tinggi hehe.... 

Nb:
Bagi sang pemilik rinduku, rikues temanya sudah terbayar tunai, ya. Kita memang jarang berucap "kata itu", pertukaran tatapan dan sentuhan jemari menari terkadang lebih dari cukup untuk saling mahfum apa yang berdegupan dalam hati masing-masing. Mengaksara, kepadamu.

Senin, 30 September 2013

Mystically Miss



Rindu yang mistis, menghangatkan tidak hanya hati, tetapi juga ujung-ujung jemari. Rindu yang mengepul dari rajah yang kau toreh di lengan kiriku. Rindu yang aromanya memenuhi rumah hingga ke balik tirai oranye dan serat sofa. Rindu yang berwarna terakota. Cokelat tua kemerahan. Serupa kedua bola matamu.